Kamis, 29 Oktober 2020

Mengenal Bahaya Penyakit Gonore

 


Salah satu jenis penyakit menular seksual adalah penyakit gonore atau yang dikenal dengan kencing nanah.  Penyakit ini termasuk ke dalam penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menjangkiti perempuan dan juga laki-laki.

Berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2012, terdapat 78 juta orang penderita Gonore di seluruh dunia. Penyakit infeksi menular seksual seperti ini bukanlah kasus yang mudah untuk didata, lantaran masih adanya rasa malu untuk memeriksakan diri ke dokter seputar penyakit di alat kelamin. Penyakit ini umumnya terjadi pada usia produktif, yaitu 15 hingga 49 tahun. Namun tidak jarang pula ditemukan kasus Gonore pada pasien yang berusia di atas 50 tahun.


Penyebab Penyakit Gonoreatau Kencing Nanah

Penyebab utama Gonore adalah bakteri bernama Neisseria Gonorrhoeae. Ketika manusia terpapar, bakteri tersebut akan menempel di selaput lendir yang terdapat pada rongga mulut, faring atau kerongkongan, saluran kemih, dan dubur. 

Bakteri tersebut juga dapat menular melalui seks tidak aman melalui oral, anal, atau vaginal. Risiko infeksi juga dapat meningkat apabila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan kondom. Gejala gonore umumnya dapat terjadi sekitar 2-14 hari setelah Anda tertular. 

Penularan Gonore bisa secara penetrasi, orogenital (oral-genital, terjadi karena melakukan oral seks dengan pengidap penyakit Gonore), dan anogenital (anus-genital, menular dari anal seks). Bakteri Neisseria Gonorrhoeae tidak bisa bertahan lama di udara bebas, dan akan mati jika tidak menemukan host atau inang berupa manusia. Oleh karena itu, seprei, handuk, pakaian, atau benda mati yang digunakan penderita Gonore tidak bisa menularkan penyakitnya. Masa inkubasinya pun tergolong cepat yaitu antara 2 hingga 5 hari. 

Faktor risiko lain yang juga memengaruhi seseorang tertular penyakit gonore, jika Anda masih berusia muda, melakukan hubungan seksual dengan pasangan baru, melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, memiliki riwayat penyakit gonore sebelumnya, dan memiliki riwayat penyakit infeksi menular seksual


Berikut beberapa gejala penyakit gonore yang biasanya muncul pada wanita:


- Keluar cairan dari vagina (berair, kental menyerupai krim, sedikit kehijauan)

- Ketika buang air kecil, adanya sensasi nyeri dan rasa terbakar

- Frekuensi buang air kecil yang cukup sering

- Munculnya bercak darah atau perdarahan saat tidak sedang menstruasi

- Rasa nyeri ketika melakukan hubungan seksual

- Rasa nyeri juga dirasakan pada perut bagian bawah atau nyeri panggul

- Bengkak pada vulva

- Rasa terbakar atau panas di tenggorokan (ketika sudah melakukan seks oral)

- Demam



Gejala gonore pada pria:

  • Keluarnya Nanah Dari Alat Kelamin

Bakteri penyebab Gonore akan merusak selaput lendir di saluran kencing pria, sehingga keluar nanah yang sangat terlihat.Nanah ini bentuknya seperti ingus, bewarna putih, bisa kekuningan atau kehijauan, dan bertekstur kental. Adanya bercak di celana dalam juga perlu diwaspadai sebagai gejala Gonore. Maka dari itu, penyakit Gonore sering disebut sebagai ‘pilek’ pada alat kelamin.

  • Terasa Sakit atau Perih Saat Kencing

Akibat adanya nanah, saluran kemih akan saling menempel atau mampet. Saat berkemih, dorongan air seni akan memaksa keluar dari saluran yang mampet tersebut, sehingga terasa sakit atau perih.

  • Ujung Penis Merah dan Bengkak

Tanda yang paling mudah dikenali adalah ketika ujung penis terlihat merah dan bengkak, serta mengeluarkan nanah. Karena dorongan dari air seni tadi, maka lubang kemih akan menjadi bengkak.

Jika Gonore menular melalui seks oral, pasien dapat menderita peradangan pada kerongkongan. Selain itu pasien juga bisa terinfeksi di saluran dubur jika tertular lewat seks anal.


5 Pencegahan penyakit gonore yang perlu diterapkan

Agar seks tak menjadi mimpi buruk, pencegahan gonore ini perlu diperhatikan dan diterapkan:

1. Setia pada satu pasangan

Seks bebas dan bergonta-ganti pasangan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit menular seksual, termasuk gonore. Dengan demikian, cara terbaik melakukan pencegahan penyakit gonore adalah tidak sembarangan berhubungan seks atau senantiasa setia pada satu pasangan.

Anda mungkin pernah mendengar ungkapan bahwa jika kita berhubungan seks dengan seseorang, otomatis kita juga berhubungan seks dengan partnernya di masa lalu. Semakin sering Anda bergonta-ganti pasangan, semakin besar pula kemungkinan risiko penyakit menular seksual dari partner Anda tersebut.

2. Gunakan kondom

Kondom membantu mencegah berbagai infeksi menular seksual seperti gonore, bahkan hingga 98%. Penggunaan kondom pun semakin wajib jika Anda tidak mengetahui status kesehatan partner seksual Anda. Tak dipungkiri, banyak orang yang tidak jujur dan terbuka dengan kondisi kesehatannya saat berhubungan seks sehingga penggunaan kondom menjadi wajib.

3. Cek rutin status kesehatan Anda dan pasangan

Semua kalangan yang aktif berhubungan seksual sangat dianjurkan melakukan pemeriksaan gonore secara berkala. Kelompok yang berisiko mengalami penyakit ini termasuk individu yang baru menjalani hubungan dan akan berhubungan seks, individu yang memiliki banyak pasangan, atau individu yang pasangannya menderita IMS tertentu.

4. Terbuka pada pasangan

Mengetahui status Anda dan pasangan membantu menurunkan risiko penularan penyakit menular seksual, tak terkecuali gonore. Hal ini harus dengan catatan bahwa Anda dan pasangan saling terbuka satu sama lain.

5. Tidak berhubungan seks jika pasangan menunjukkan gejala

Apabila pasangan dan partner Anda menunjukkan gejala infeksi menular seksual, Anda sangat disarankan untuk menunda hubungan intim terlebih dahulu. Gejala yang dapat diidentifikasi yakni ruam dan luka pada area genital pasangan, atau pasangan mengaku mengalami sensasi terbakar saat buang air kecil.







Sumber: 

https://cantik.tempo.co/read/1367415/gonore-pada-wanita-mirip-infeksi-jamur-vagina-kenali-gejalanya

https://id.theasianparent.com/penyakit-gonore/


Pola Hidup Sehat

 Setiap orang pasti ingin memiliki tubuh yang sehat, namun seiring dengan berkembangnya zaman dan kesibukan, terkadang kita mejadi lupa menjalani pola hidup sehat guna menjaga kesehatan. Hasilnya, kita menjadi terjangkit berbagai macam penyakit dan tidak jarang penyakit tersebut adalah penyakit serius, maka dari itu kita perlu menerapkan pola hidup sehat.



Pengertian Pola Hidup Sehat

Apa itu pola hidup sehat ?

Pola hidup sehat adalah upaya seseorang untuk menjaga tubuhnya agar tetap sehat. Pola hidup sehat dapat dilakukan dengan cara mengonsumsi makanan bergizi, olahraga secara rutin, dan istirahat yang cukup.

Kesehatan adalah dambaan kita semua. Untuk hidup sehat tentunya akan menjalankan sebuah aktifitas rutin dengan memperhatikan gaya hidup sehat. Kekayaan lahir dan batin tidak akan ada artinya bila kita masih terjebak dalam kondisi atau situasi sakit baik itu karena virus penyakit ataupun karena tingkah laku yang tidak memperhatikan kondisi badan.

Pola hidup sehat selalu berhubungan dengan faktor makanan yang menyehatkan serta menjauhi dari pola makanan tidak sehat yang nantinya akan menyebabkan harihari kita menjadi suram karena timbul penyakit.

Selain dari aspek makanan yang sehat juga bergizi satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah menjaga kondisi tubuh supaya tetap bugar dengan olahraga yg teratur dan menghindari tubuh kecapekan sehingga pikiran kita stress.


Tujuan/Manfaat Pola Hidup Sehat

Tujuan atau manfaat dari pola hidup sehat tentunya untuk menjaga kesehatan tubuh supaya tidak mudah sakit. Tapi menerapkan pola hidup sehat memiliki beberapa tujuan juga, misalnya; untuk mendapatkan kesehatan jasmani dan rohani dapat selalu terjaga dan supaya memiliki kesehatan mental yang stabil sehingga tidak mudah depresi ataupun stress.


Di bawah ini ada beberapa tips pola hidup sehat yang mudah dilakukan dan pastinya akan membantu kamu untuk menjadi lebih sehat:

1. Pola Hidup Sehat Dengan Mengonsumsi Makanan Bergizi 



Makanan adalah salah satu faktor utama dalam hidup sehat. Kamu dapat mengganti makananmu dengan mengonsumsi makanan yang penuh gizi seperti rendah gula, kaya serat, dan banyak vitamin. Perbanyaklah sayur dan buah, baiknya kamu mengonsumsi lima sampai enam porsi setiap harinya. Jika merasa terlalu banyak, kamu bisa memulainya dengan mengonsumsi satu porsi setiap hari, lalu dalam waktu seminggu kamu tambah lagi satu porsi. 

2. Perbanyak Olahraga 



Rutin berolahraga bukan hanya bagian pola hidup sehat dari orang yang memiliki usia muda. Olahraga adalah kegiatan yang penting dilakukan. Berapapun usiamu, usahakan untuk tetap aktif secara fisik. Banyak orang berpikir bahwa olahraga adalah kegiatan yang melelahkan, maka tidak heran apabila saat ini semakin banyak orang yang malas untuk berolahraga.


Padahal olahraga memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan hidup kita. Olahraga juga dapat membantu kita untuk menjalani pola hidup sehat.

3. Istirahat Yang Cukup



Istirahat yang cukup adalah bagian yang penting dalam menjalani pola hidup sehat. Kebutuhan istirahat dan tidur setiap individu berbeda-beda sesuai tahap perkembangan aktivitas yang dijalani. National Sleep Foundation merekomendasikan bahwa usia dewasa muda (18-25 tahun) membutuhkan waktu tidur 7-9 jam per malam. Orang yang tidak memiliki waktu tidur cukup berpotensi terkena penyakit mematikan, seperti kanker dan jantung.

4. Perbanyak Minum Air Putih Dan Gosok Gigi Secara Teratur



Banyak orang mengabaikan kesehatan mulut mereka. Biasanya hal ini baru diperhatikan apabila mereka mengalami sakit gigi atau bau tidak sedap di mulut. Padahal kesehatan  mulut sangat berkaitan erat dengan kebugaran tubuh kita. Mengapa? Karena mulut adalah tempat dimana bakteri mudah berkembang biak karena kondisinya yang lembab. Jadi apabila bakteri pada mulut dibiarkan, dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

5. Berpikir Positif



Secara psikologi berpikir positif adalah aktivitas berpikir yang dilakukan dengan tujuan untuk membangkitkan aspek positif pada diri, baik itu yang berupa potensi, semangat, tekad, maupun keyakinan diri sehingga memunculkan perasaan, perilaku, dan hal baik yang menjadi sistem berpikir.





Sumber :

https://cashbac.com/blog/pola-hidup-sehat-ternyata-mudah-dilakukan/

https://www.dosenpendidikan.co.id/pola-hidup-sehat/

Jumat, 23 Oktober 2020

Mengenal Infeksi Saluran Kemih



 1. Pengertian


Infeksi saluran kemih merupakan kondisi terjadinya infeksi di salah satu atau lebih bagian dari sistem berkemih. Sistem berkemih ini mencakup ginjal, ureter (saluran dari ginjal ke kandung kemih), kandung kemih, dan uretra (saluran pelepasan air seni).


Sebagian besar infeksi saluran kemih yang terjadi merupakan infeksi saluran kemih bawah, yang memengaruhi kandung kemih dan uretra. Dalam hal ini, wanita diketahui berisiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran kemih dibandingkan pria.


Infeksi saluran kemih yang mempengaruhi saluran kemih bawah ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan saat berkemih. Namun, bila infeksi menyebar ke saluran kemih atas dan memengaruhi ginjal, maka hal ini bisa menyebabkan konsekuensi yang lebih serius. Oleh sebab itu, infeksi saluran kemih, baik atas maupun bawah, harus ditangani dengan baik.


Bila terjadi infeksi saluran kemih atas, maka yang terpengaruh pada tubuh Anda biasanya adalah ginjal dan ureter. Kondisi ini disebut pielonefritis, atau infeksi saluran kemih pada ginjal. Ditandai dengan adanya keluhan seperti nyeri pinggang, demam tinggi, menggigil, mual, dan muntah.


Sedangkan infeksi saluran kemih bawah biasanya berkaitan dengan kandung kemih dan uretra. Kondisi ini disebut sistitis, atau infeksi saluran kemih pada kandung kemih.


Gejalanya bisa ditandai dengan keluhan seperti adanya tekanan pada perut bawah, rasa tidak nyaman pada perut bawah, dan adanya darah pada urine. Sedang uretritis, atau infeksi saluran kemih pada uretra, dapat ditandai dengan adanya rasa nyeri saat berkemih.


2. Gejala


Infeksi saluran kemih tidak selalu menunjukkan tanda-tanda atau gejala yang berat. Gejala yang timbul pun dapat berbeda antara infeksi saluran kemih bawah dan atas.


Infeksi saluran kemih bawah yang melibatkan kandung kemih dan uretra biasanya ditandai dengan adanya:


• Dorongan kuat dan persisten untuk berkemih secara tiba-tiba.

• Rasa nyeri atau tidak nyaman saat berkemih.

• Rasa tidak tuntas atau terasa ada yang tertinggal saat berkemih.

• Anyang-anyangan.

• Kekeruhan pada air seni.

• Perubahan warna air seni menjadi merah, merah muda terang, atau kecoklatan

• Aroma air seni yang menyengat.

• Nyeri pada perut bawah, terutama dialami pada wanita.

• Rasa pegal dan mudah lelah.

Sedangkan, tanda dan gejala yang umumnya terjadi pada infeksi saluran kemih atas yang melibatkan organ ginjal dan ureter adalah:


• Demam dengan suhu di atas 38oC

• Nyeri pada pinggang

• Menggigil

• Agitasi dan rasa tidak nyaman pada tubuh


3. Diagnosis


Bila Anda mengalami gejala infeksi saluran kemih, maka dokter akan melakukan pemeriksaan dan prosedur tindakan untuk menentukan diagnosis. Pemeriksaan mencakup:


Pemeriksaan urine, untuk melihat sel darah putih, sel darah merah, adanya bakteri pada urine, dan sebagainya. Untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi dari sampel air seni yang diambil, Anda akan diminta untuk membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Dianjurkan pula hanya menampung air seni yang keluar di tengah-tengah proses berkemih, dengan tidak menampung air seni yang pertama keluar dan saat di akhir berkemih.

• Pemeriksaan kultur urine, dilakukan untuk memastikan jenis bakteri yang menyebabkan infeksi serta pengobatan yang paling efektif untuk menanganinya.

• Pencitraan saluran kemih, dilakukan bila infeksi terjadi berulang kali dan dokter mencurigai adanya kelainan anatomis atau struktural dari saluran kemih. Dalam hal ini, dokter biasanya menganjurkan pemeriksaan ultrasonografi (USG), computerized tomography (CT) scan, atau magnetic resonance imaging (MRI).

• Pemeriksaan sistoskopi, yang dapat dilakukan bila pemeriksaan penunjang lain dinilai belum cukup untuk mengatasi infeksi saluran kemih yang terjadi. Sistoskopi dilakukan dengan cara memasukkan alat sistoskop, yang merupakan tuba panjang dan tipis yang memiliki lensa, untuk melihat ke dalam saluran kencing dan kandung kemih.


4. Pengobatan


Infeksi saluran kemih yang ringan umumnya ditangani dengan pemberian antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Gejala akan mereda sekitar tiga hari setelah memulai pengobatan. Tetap pastikan bahwa antibiotik yang diberikan oleh dokter dihabiskan sesuai jumlah hari yang dianjurkan walaupun keluhan sudah teratasi. Selain itu, dokter juga umumnya akan meresepkan obat antinyeri untuk mengatasi gejala nyeri yang timbul.


Untuk infeksi saluran kemih yang berulang, dokter bisa saja meresepkan antibiotik untuk jangka waktu yang lebih lama. Selain itu, juga dibutuhkan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab infeksi saluran kemih yang terjadi cukup sering atau berulang dalam waktu dekat.


5. Pencegahan


Bila seseorang sering mengalami infeksi saluran kemih, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya infeksi berulang, seperti :


• Menjaga kondisi hidrasi tubuh dengan memastikan konsumsi air minum yang rutin dan mencukupi kebutuhan harian.

• Menjaga kebersihan anus dan membersihkannya dari arah depan ke belakang saat selesai buang air di toilet.

• Mencuci tangan dengan benar, khususnya usai melakukan aktivitas di toilet

• Berkemih dan membesihkan diri setelah berhubungan seksual.

• Menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun dan menghindari bahan sintetis seperti nilon.


 6. Penyebab


Pada umumnya infeksi saluran kemih terjadi karena bakteri Escherichia coli atau E.coli. Bakteri ini biasanya hidup di dalam saluran cerna. Bakteri dapat masuk ke dalam saluran uretra, jika Anda kurang memperhatikan kebersihan area organ intim –khususnya usai proses buang air kecil atau besar.

SCABIES

       Scabies atau kudis adalah kondisi kulit gatal yang disebabkan oleh kutu kecil bernama Sarcoptes scabiei yang tidak bisa terlihat den...